Bergantung

Entah kenapa akhir akhir ini (tepatnya dalam dua tahun terakhir) perasaan mengganjal ini terus menetap dalam diri.

Perasaan seperti hampa, tidak memiliki tempat untuk bergantung, merasa sendiri dalam setiap langkah yang diambil, kerap sering sekali muncul dan membuat hidup terasa tidak nyaman.

Dalam beberapa waktu tertentu, bisa perasaan sejenis itu hilang, namun kemudian kembali berdatangan, layaknya air laut yang pasang dan surut kembali.

Kadang kehadiran teman-teman menjadi alasan hilangnya perasaan ga puguh itu. Saat bisa bercerita, bercanda tertawa sampai lupa waktu. Apalagi dibarengin dengan adanya coklat, oat, makanan enak, minuman enak, atau pergi maen ke tempat yang bikin pikiran dan badan rileks ..
Nggak jarang bisa jadi alasan hilangnya perasaan ga puguh itu.

Tapi ya begitu, sifatnya kayak air dipesisir pantai.
Pasang dan surut.
Sementara aja, hilangnya.

Sering saya berfikir, apakah hal ini adalah wajar?
Apakah memang semua orang dewasa merasakan -keresahan- yang sama ?
Jika iya, itu artinya saya harus merasakan perasaan jenis ini terus menerus sampai saya tua nanti ?

Satu hal yang saya sedang mencoba dan terus berusaha untuk meyakini dan mengamalkan,
pemahaman bahwa memang tidak ada tempat bergantung, siapapun di dunia ini, yang dapat mengatasi segala permasalahan hidup kita.

kecuali Dia, yang harus kita yakini, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Dulu, guru agama saya pernah bilang. Jika kita meyakini sepenuh hati mengenai sifat-sifat Allah, maka hidup kita akan tenteram. Keren banget kalau bisa semuanya. Tapi katanya, jika kita meyakini cukup dua saja dari sembilan puluh sembilan sifat Allah, itu sudah menentramkan hati.

Yakni meyakini sifat Rahmaan dan Rahiimnya Allah.
Kata yang dalam kata basmallah saja, dua sifat itu sering kita lafalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bismillahi Arrahmaan Arrahiim .
Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Yakin, Ia tidak akan meninggalkan.
Yakin, Ia Maha Pengasih, Penyayang.
Yakin, Rahmat-Nya selalu tersebar diseluruh penjuru bumi, bahkan dalam diri.

Tidak ada yang lebih hak untuk disembah, dan dimintai pertolongan.
Maafkan hamba yang sombong ini Yaa Rabb.

Komentar

Postingan Populer