Tentang Ikatan dan Kebersamaan
Ada masa ketika secara terlintas aku berfikir mengenai kebersamaan.
Mengamati fenomena bahwa dalam perjalanan hidup ini manusia datang dan pergi sesuai dengan ritmenya masing-masing.
Ada yang menetap dalam waktu lama.
Kita bisa berinteraksi nyaman dengannya. Kita bisa begitu semangat mengeluarkan semua apa yang ada dalam pikiran untuk terus mengeksplor diri dan sama-sama berkembang, hingga ikatan yang terjadi diantara kita begitu kuat didalamnya.
Dilain sisi adapula ia yang datang sekejap.
Ia datang, berinteraksi sebentar, lantas pergi.
Seakan akan selalu ada suatu alasan dibalik itu semua. Seakan akan kebersamaan itu memiliki ikatan tertentu yang menentukan ritmenya masing-masing.
Kita bisa berinteraksi nyaman dengannya. Kita bisa begitu semangat mengeluarkan semua apa yang ada dalam pikiran untuk terus mengeksplor diri dan sama-sama berkembang, hingga ikatan yang terjadi diantara kita begitu kuat didalamnya.
Dilain sisi adapula ia yang datang sekejap.
Ia datang, berinteraksi sebentar, lantas pergi.
Seakan akan selalu ada suatu alasan dibalik itu semua. Seakan akan kebersamaan itu memiliki ikatan tertentu yang menentukan ritmenya masing-masing.
Sejauh ini bagiku kebersamaan selalu dilatarbelakangi oleh ikatan-ikatan.
Ada yang kuat, untuk mereka yang memiliki tujuan dan 'ritme hati' yang sama.
Ada yang kuat, untuk mereka yang memiliki tujuan dan 'ritme hati' yang sama.
Ada yang lemah, untuk mereka yang memang tidak memiliki tujuan dan 'ritme hati' yang berbeda,
Percis seperti macam-macam ikatan dalam interaksi senyawa dalam kimia yang kita pelajari di SMA dulu.
Ikatan kovalen buat yang kuat
Ikatan ionik yang kuat juga
Ikatan dipol-dipol yang setengah kuat
Ikatan hydrogen.
Mereka saling berinteraksi, tanpa kita perintah, menjadi senyawa tertentu yang memberikan manfaat buat manusia.
Seorang teman pernah berkata,
Oksigen (O) tidak akan menjadi air tanpa hydrogen (H2)
Mereka telah ditakdirkan untuk saling berikatan kuat, satu sama lain, saling melengkapi.
Dengan tujuan sesederhana itu : menjadi air.
Mereka telah ditakdirkan untuk saling berikatan kuat, satu sama lain, saling melengkapi.
Dengan tujuan sesederhana itu : menjadi air.
Iya,
Katanya hidup itu adalah tentang interaksi dan ikatan-ikatan yang ditakdirkan saling mengisi satu sama lain, dengan tujuannya masing-masing. Seperti air.
Yang kemudian bermanfaat besar untuk alam dan makhluk hidup.
Seakan akan mereka, si hydrogen dan oksigen, tahu diri.
Bahwa mereka harus berikatan, untuk kebermanfaatannya itu.
Mungkin begitu juga dengan manusia.
Datang dan pergi silih berganti,
Ada yang berikatan kuat, ada yang lemah.
Tujuannya masing-masing.
Tujuannya masing-masing.
Pasti selalu ada alasan dibalik semua fenomena itu yang berada diluar kuasa pengetahuan kita.
Tinggal kita memilih, ingin ikatan seperti apa,
Ingin berdampak seperti apa.
"Bagi manusia, hidup itu juga sebab akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksaksa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi. Sungguh kalau kau lukiskan peta itu maka ia bagai bola raksaksa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit"
-Tereliye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu
-Tereliye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Jatinangor, 4 April 2018
*Ditulis sambil liat tabel periodik pada tengah malam yang gelap namun tidak dingin-dingin amat lalu wangi semerbak mie Indomie menggugah selera menjadi alasan mengapa tulisan ini akan bersambung ke part selanjutnya.
:p

Komentar
Posting Komentar