POROS



"
Suatu hari aku pernah melihat ibuku menangis.
Selepas sholat shubuh dia bangkit, menyeka airmatanya dan langsung ke dapur.
Pagi itu dia lebih sibuk dari pagi biasanya.

Hari ini aku memahami kenapa dia begitu sibuk dari biasanya,
Ternyata itu cara menata hatinya dari luka dan perih karena dia sadar betul
Jika dia gagal menata hatinya aktivitasnya hari itu tidak akan berjalan semestinya.

Bagi seorang ibu,
Anak anak dan keluarganya adalah semestanya
Dan ia adalah porosnya.
Dia harus memastikan segala sesuatu
Berjalan sesuai orbitnya.

Meski luka dan kepedihan itu akan membekas
Dia tidak akan pernah menunjukkannya pada dunia
Dia akan menyimpannya jauh jauh bahkan di bawah alam sadarnya

Sampai dia menemukan kata memaafkan
Atau sekedar kekuatan dari kata sabar dan ikhlas
Agar kembali ajeg
Di atas kakinya.

Lalu tangannya kembali terampil menata rumah sembari meyalurkan kelembutan,
untuk sekedar mengelus kepala anak-anaknya. 
"

[Rida, 2018]

Tentang Poros. 

Sebuah titik tumpu dalam pergerakan kehidupan. 
Katanya, tanpa poros yang menetap
sesuatu yang kita jalani akan menjadi kacau tak terarah. 
Dan Ibu, telah menjadi poros hidup kita tanpa kita sadari.


Jatinangor, 2018.
Ditulis dalam kepusingan akhir ujian.
Kalimat-kalimat itu kutemukan dari seorang saudara yang sampai sekarang kalimatnya masih nusuk hati dan terngiang-ngiang dikepala.

Ngeong.


Komentar